Artikel ini saya dapatkan di
situs online yakni Konsultasi syariah.com oleh Ustadz Ammi Nur Baits pada April 25, 2014
Banyak perdebatan tentang
adakah pusa di bulan Rajab. Seperti yang kita ketahui, banyak yang
mengamalkannya dan banyak juga yang menentangnya. Entah benar atu tidaknya
dalil yang mengesahkannya juga masih dalam perdebtan para ulama. Nah, dikesempatan
kali ini saya akan membagi ilmu apa yang telah saya dapatkan. Semoga
bermanfaat...
Tidak terdapat amalan khusus terkait bulan Rajab,
baik bentuknya shalat, puasa, zakat, maupun umrah. Mayoritas ulama menjelaskan
bahwa hadis yang menyebutkan amalan di bulan Rajab adalah hadis dhaif dan tertolak.
Ibnu Hajar mengatakan,
لم
يرد
في
فضل
شهر
رجب
،
ولا
في
صيامه
،
ولا
في
صيام
شيء
منه
معين
،
ولا
في
قيام
ليلة
مخصوصة
فيه
حديث
صحيح
يصلح
للحجة
،
وقد
سبقني
إلى
الجزم
بذلك
الإمام
أبو
إسماعيل الهروي
الحافظ
“Tidak terdapat riwayat yang
sahih yang layak dijadikan dalil tentang keutamaan bulan Rajab, tidak pula
riwayat yang shahih tentang puasa rajab, atau puasa di tanggal tertentu bulan
Rajab, atau shalat tahajud di malam tertentu bulan rajab. Keterangan saya ini
telah didahului oleh keterangan Imam Al-Hafidz Abu Ismail Al-Harawi.” (Tabyinul
Ujub bi Ma Warada fi Fadli Rajab, hlm. 6)
Keterangan yang sama juga
disampaikan oleh Imam Ibnu Rajab. Dalam karyanya yang mengupas tentang amalan
sepanjang tahun, yang berjudul Lathaiful Ma’arif, beliau
menegaskan tidak ada shalat sunah khusus untuk bulan rajab,
لم
يصح
في
شهر
رجب
صلاة
مخصوصة
تختص
به
و
الأحاديث المروية في
فضل
صلاة
الرغائب في
أول
ليلة
جمعة
من
شهر
رجب
كذب
و
باطل
لا
تصح
و
هذه
الصلاة
بدعة
عند
جمهور
العلماء
“Tidak terdapat dalil yang sahih
tentang anjuran shalat tertentu di bulan Rajab. Adapun hadis yang menyebutkan
keutamaan shalat Raghaib di malam Jumat pertama bulan Rajab adalah hadis dusta,
batil, dan tidak sahih. Shalat Raghaib adalah bid’ah, menurut mayoritas ulama.”
(Lathaiful Ma’arif, hlm. 213)
Terkait masalah puasa di bulan
Rajab, Imam Ibnu Rajab juga menegaskan,
لم
يصح
في
فضل
صوم
رجب
بخصوصه
شيء
عن
النبي
صلى
الله
عليه
و
سلم
و
لا
عن
أصحابه
و
لكن
روي
عن
أبي
قلابة
قال
: في
الجنة
قصر
لصوام
رجب
قال
البيهقي : أبو
قلابة
من
كبار
التابعين لا
يقول
مثله
إلا
عن
بلاغ
و
إنما
ورد
في
صيام
الأشهر
الحرم
كلها
“Tidak ada satu pun hadis sahih dari
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keutamaan puasa bulan Rajab secara
khusus. Hanya terdapat riwayat dari Abu Qilabah, bahwa beliau mengatakan, ‘Di
surga terdapat istana untuk orang yang rajin berpuasa di bulan Rajab.’ Namun,
riwayat ini bukan hadis. Imam Al-Baihaqi mengomentari keterangan Abu Qilabah,
‘Abu Qilabah termasuk tabi’in senior. Beliau tidak menyampaikan riwayat itu,
melainkan hanya kabar tanpa sanad.’ Riwayat yang ada adalah riwayat yang
menyebutkan anjuran puasa di bulan haram seluruhnya” (Lathaiful Ma’arif, hlm.
213)
Keterangan Ibnu Rajab yang
menganjurkan adanya puasa di bulan haram, ditunjukkan dalam hadis dari Mujibah
Al-Bahiliyah dari bapaknya atau pamannya, Al-Bahily. Sahabat Al-Bahily ini
mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, setelah bertemu dan menyatakan
masuk islam, beliau kemudian pulang kampungnya. Satu tahun kemudian, dia datang
lagi menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Ya Rasulullah, apakah anda masih
mengenal saya.” Tanya Kahmas,
“Siapa anda?” tanya Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Saya Al-Bahily, yang dulu pernah
datang menemui anda setahun yang lalu.” Jawab sahabat
“Apa yang terjadi dengan anda,
padahal dulu anda berbadan segar?” tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Saya tidak pernah makan, kecuali
malam hari, sejak saya berpisah dengan anda.” Jawab sahabat.
Menyadari semangat sahabat ini untuk
berpuasa, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan,
لِمَ
عَذَّبْتَ نَفْسَكَ، صُمْ
شَهْرَ
الصَّبْرِ، وَيَوْمًا مِنْ
كُلِّ
شَهْرٍ
Mengapa engkau menyiksa dirimu.
Puasalah di bulan sabar (ramadhan), dan puasa sehari setiap bulan.
Namun Al-Bahily selalu meminta
tambahan puasa sunah,
“Puasalah sehari tiap bulan.” Orang
ini mengatakan, “Saya masih kuat. Tambahkanlah!” “Dua hari setiap bulan.” Orang
ini mengatakan, “Saya masih kuat. Tambahkanlah!” “Tiga hari setiap bulan.”
Orang ini tetap meminta untuk ditambahi. Sampai akhirnya Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam memberikan kalimat pungkasan,
صُمْ
مِنَ
الحُرُمِ وَاتْرُكْ، صُمْ
مِنَ
الحُرُمِ وَاتْرُكْ، صُمْ
مِنَ
الحُرُمِ وَاتْرُكْ
“Berpuasalah di bulan haram, lalu
jangan puasa (kecuali ramadhan)…, Berpuasalah di bulan haram, lalu jangan
puasa…, Berpuasalah di bulan haram, lalu jangan puasa.” (HR. Ahmad, Abu Daud,
Al-Baihaqi dan yang lainnya. Hadis ini dinilai sahih oleh sebagian ulama dan
dinilai dhaif oleh ulama lainnya).
Bulan haram artinya bulan yang
mulia. Allah memuliakan bulan ini dengan larangan berperang. Bulan haram, ada
empat: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.
Puasa
di Bulan Haram
Hadis Mujibah Al-Bahiliyah
menceritakan anjuan untuk berpuasa di semua bulan haram, sebagaimana yang
ditegaskan Ibnu Rajab. Itupun anjuran puasa ini sebagai pilihan terakhir ketika
seseorang hendak memperbanyak puasa sunah, sebagaimana yang disarankan oleh
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat Al-Bahily. Karena itu,
terlalu jauh ketika hadis ini dijadikan dalil anjuran puasa di bulan rajab
secara khusus, sementara untuk bulan haram lainnya, kurang diperhatikan. Karena
praktek yang dilakukan beberapa ulama, mereka berpuasa di seluruh bulan haram,
tidak hanya bulan rajab. Sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Rajab,
قد
كان
بعض
السلف
يصوم
الأشهر
الحرم
كلها
منهم
ابن
عمر
و
الحسن
البصري
و
أبو
اسحاق
السبيعي و
قال
الثوري
: الأشهر
الحرم
أحب
إلي
أن
أصوم
فيها
Beberapa ulama salaf melakukan puasa
di semua bulan haram, di antaranya: Ibnu Umar, Hasan Al-Bashri, dan Abu Ishaq
As-Subai’i. Imam Ats-Tsauri mengatakan, “Bulan-bulan haram, lebih aku cintai
untuk dijadikan waktu berpuasa.” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 213).
Para
Sahabat Melarang Mengkhususkan Rajab untuk Puasa
Kebiasaan mengkhususkan puasa di
bulan rajab telah ada di zaman Umar radhiyallahu ‘anhu. Beberapa tabiin yang hidup
di zaman Umar bahkan telah melakukannnya. Dengan demikian, kita bisa mengacu
bagaimana sikap sahabat terhadap fenomena terkait kegiatan bulan rajab yang
mereka jupai.
Berikut beberapa riwayat yang
menyebutkan reaksi mereka terhadap puasa rajab. Riwayat ini kami ambil dari
buku Lathaiful Ma’arif, satu buku khusus karya Ibnu Rajab, yang membahas
tentang wadzifah (amalan sunah) sepanjang masa,
روي
عن
عمر
رضي
الله
عنه
: أنه
كان
يضرب
أكف
الرجال
في
صوم
رجب
حتى
يضعوها
في
الطعام
و
يقول
: ما
رجب
؟
إن
رجبا
كان
يعظمه
أهل
الجاهلية فلما
كان
الإسلام ترك
Diriwayatkan dari Umar bin Khatab
radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau memukul telapak tangan beberapa orang yang
melakukan puasa rajab, sampai mereka meletakkan tangannya di makanan. Umar
mengatakan, “Apa rajab? Sesungguhnnya rajab adalah bulan yang dulu diagungkan
masyarakat jahiliyah. Setelah islam datang, ditinggalkan.”
Dalam riwayat yang lain,
كرِهَ
أن
يَكونَ
صِيامُه سُنَّة
“Beliau benci ketika puasa rajab
dijadikan sunah (kebiasaan).” (Lathaif Al-Ma’arif, 215).
Dalam riwayat yang lain, tentang
sahabat Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu,
أنه
رأى
أهله
قد
اشتروا
كيزانا
للماء
واستعدوا للصوم
فقال
: ما
هذا
؟
فقالوا:
رجب.
فقال:
أتريدون أن
تشبهوه
برمضان
؟
وكسر
تلك
الكيزان
Beliau melihat keluarganya telah
membeli bejana untuk wadah air, yang mereka siapkan untuk puasa. Abu Bakrah
bertanya: ‘Puasa apa ini?’ Mereka menjawab: ‘Puasa rajab’ Abu Bakrah menjawab,
‘Apakah kalian hendak menyamakan rajab dengan ramadhan?’ kemudian beliau
memecah bejana-bejana itu. (Riwayat ini disebutkan oleh Ibnu Qudamah dalam
Al-Mughni 3/107, Ibn Rajab dalam Lathaif hlm. 215, Syaikhul Islam dalam Majmu’
Fatawa 25/291, dan Al-Hafidz ibn Hajar dalam Tabyi Al-Ujb hlm. 35)
Ibnu Rajab juga menyebutkan beberapa
riwayat lain dari beberapa sahabat lainnya, seperti Ibnu Umar dan Ibnu Abbas,
bahwa mereka membenci seseorang yang melakukan puasa rajab sebulan penuh.
Sikap mereka ini menunjukkan bahwa
mereka memahami bulan rajab bukan bulan yang dianjurkan untuk dijadikan waktu
berpuasa secara khusus. Karena kebiasaan itu sangat mungkin, tidak mereka alami
di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kesimpulan:
Kesimpulan dari keterangan di atas,
- Tidak dijumpai dalil khusus yang menyebutkan keutamaan bulan rajab.
- Tidak dijumpai dalil yang menyebutkan keutamaan puasa rajab atau shalat sunah khusus di bulan rajab.
- Beberapa sahabat melarang orang mengkhususkan puasa khusus di bulan rajab atau melakukan puasa sebulan penuh selama bulan rajab.
- Dalil yang menyebutkan keutamaan khusus bagi orang yang melakukan puasa rajab adalah hadis dhaif, dan tidak bisa dijadikan dalil.
- Bagi orang yang rajin puasa, dibolehkan untuk memperbanyak puasa di bulan haram. Sebagaimana dinyatakan dalam hadis Al-Bahily. Hanya saja, hadis ini berlaku umum untuk semua puasa bulan haram, tidak hanya rajab.
Allahu a’lam


0 komentar:
Posting Komentar